The End of America?

  • Whatsapp
Foto: pribadi

            Pepatah bijak menyatakan, “Jika anda mendaki dan telah sampai di puncak, maka tak ada jalan lain kecuali Anda harus turun.”  Taufik Kiemas, juga pernah membuat perumpamaan serupa untuk istrinya, Megawati: Tidak ada lagi jalan naik untuk Megawati. Dia telah sampai di puncak. Maka, yang perlu dipikirkan, bagaimana Mega turun dengan baik. Soalnya memang, setelah merasakan enaknya di puncak, biasanya enggan turun. Ada saja alasannya.

Dunia selama ini belum pernah menyaksikan gelombang aksi unjuk rasa anti-AS yang begitu marak di berbagai penjuru dunia seperti saat ini. Sampai-sampai ribuan orang warga AS sendiri harus ditahan, menyusul aksi mereka menentang serangan Irak, di berbagai kota di AS. Kantor berita AP, (21/3) melaporkan, lagu kebangsaan AS, The Star-Spangled Banner, sudah dijadikan olok-olokan di Kanada, menyusul merebaknya aksi puluhan ribu orang di negara tetangga AS itu.

            Semua itu berpangkal dari otak dan lidah seorang Presiden AS, bernama George W. Bush. Jika Bush menyatakan, hentikan perang, maka berhentilah perang itu. Tidak ada yang akan menentangnya. Tapi, mungkin soalnya tidak sesederhana itu. Simaklah lagi film JFK garapan Oliver Stone. Film itu menggambarkan kekuatan “invisible government” yang mampu menyingkirkan JFK, gara-gara mau menghentikan Perang Vietnam. Padahal, perang itu membawa keuntungan jutaan dolar bagi AS. Apakah Bush yunior juga takut bernasib seperti JFK? Wallahu a’lam. Atau, seperti yang diungkap oleh banyak media Barat, bahwa Bush adalah seorang fundamentalis Kristen yang sedang gandrung melancarkan “the new crusade”? Wallahu a’lam juga.

            Yang jelas, naiknya Bush merupakan buah demokrasi AS, yang sejak puluhan tahun lalu, pasca Perang Dunia II, dipromosikan kepada dunia internasional.  Namun, sepanjang sejarahnya, demokrasi itu sendiri telah menyimpan kelemahan internal yang akhirnya menimpa AS sendiri. Jargon “pemerintahan rakyat” bisa lebih merupakan slogan, karena rakyat tidak benar-benar bebas memilih. Rakyat AS hanya disuguhi “dua calon” yang sudah diseleksi secara ketat oleh kaum pemilik kapital dan pemegang hegemoni opini.

            Kelemahan dan bahaya internal demokrasi itu sudah pernah diingatkan Plato, filosof Yunani Kuno. Plato (429-347 BC) menyebut empat kelemahan demokrasi. Salah satunya, pemimpin biasanya dipilih dan diikuti karena faktor-faktor non-esensial, seperti kepintaran pidato, kekayaan, dan latarbelakang keluarga. Plato memimpikan munculnya “the wisest people” sebagai pemimpin ideal di suatu negara, “The wisest people is the best people in the state, who would approach human problems with reason and wisdom derived from knowledge of the world of unchanging and perfect ideas.”

            George Walker Bush sejak awal sudah diketahui bukanlah Presiden yang “qualified”, apalagi memenuhi kualifikasi Plato.  Apalagi untuk urusan luar negeri. Konon, ia waktu itu tidak tahu di mana letak negara Pakistan. Tapi, ia keturunan Presiden. Ia kaya. Ia disokong oleh kaum berduit. Toh, kemenangannya masih harus ditolong Mahkamah Agung, karena di tingkat popular vote, dia kalah dari Al Gore. Baiknya, rakyat AS  menerimanya, atau cenderung tidak terlalu peduli siapa pun yang memegang tampuk pimpinan presiden, mengingat begitu rendahnya keterlibatan pemilih dalam pemilu Presiden AS, yakni hanya sekitar 50 persen.

            Ketua Gerakan Non-Blok sekarang, PM Mahathir menyebut dalam acara pembukaan KTT Non Blok di Kuala Lumpur, 23 Februari 2003, dunia kini telah kembali ke peradaban “zaman batu” karena menempatkan “perang” sebagai jalan penyelesaian masalah. Yang benar adalah yang kuat. Might is right. Hukum dan aturan internasional yang disusun oleh AS dan sekutu-sekutu pemenang Perang Dunia II, kini justru diinjak-injak sendiri. Inilah akhir dari aliran politik idealis yang mengagungkan hukum dan moral dalam menciptakan perdamaian. Yang menang akhirnya aliran politik realis, yang menempatkan “power” sebagai faktor utama pencipta perdamaian.

Ya, AS kini sebagai satu-satunya super power. Tidak ada balance of power, keseimbangan kekuatan,  yang mampu mengerem tindakan AS, yang jelas-jelas mengejar “kepentingan nasional” (national interests)-nya dengan mengusung jargon-jargon moralis seperti “menumbangkan diktator Sadam Hussein” dan sebagainya. Kekuatan  “Opini” yang dikatakan Alfin Toffler sebagai “the highest quality of power” ternyata juga tidak mampu mengerem tindakan Bush dan sekutunya. OKI yang beranggotakan lebih dari 55 negara Islam tidak berdaya. Malah berpecah belah. GNB, Cina, Rusia, Perancis, Jerman, juga hanya sampai pada batas “mengecam” dan “mengutuk”. The show must go on. Bush tidak pedulikan semua itu. Senjata adalah segalanya.

Minyak, minyak, minyak. Itulah jawaban utamanya. Aksi-aksi demo di berbagai penjuru dunia sering mengusung jargon “no blood for oil”. Karena AS memang negara yang haus minyak. Industrinya sudah begitu tergantung pada minyak. Tahun 2020 nanti, AS harus mengimpor minyak sekitar 18 juta barrel per hari. Irak memiliki cadangan minyak kedua terbesar di dunia. Jika Bush dan kawan-kawannya berhasil menggulingkan Saddam Hussein, maka AS secara tidak langsung menguasai negara yang memiliki cadangan minyak kedua terbesar di dunia, sekaligus juga menguasai harga minyak.

Menurut perkiraan resmi, Irak memiliki cadangan minyak sebesar 115 milyar barrel. Namun, beberapa perusahaan  minyak memperkirakan jumlah sebenarnya dua kali lipat dari angka itu. Sedangkan Arab Saudi memiliki cadangan minyak sebesar 261 milyar barrel. Ahmed Chalabi dari “Center for Global Energy Studies”  memperkirakan, dengan pengembangan teknologi tertentu, di Irak dapat ditambang 7 kali lebih banyak dari jumlah yang ditambang saat ini, yaitu hanya sekitar 1,5 juta barrel. Ini berarti lebih banyak dari kapasitas produksi Saudi yang sekitar 9 juta barrel saat ini. Inilah yang dijanjikan Bush, Irak akan menjadi negara masa depan yang makmur. Tapi, entah siapa yang menikmati?

Inikah tahap akhir dari American Civilization? AS sudah sampai puncak dan sedang dalam proses turun? Wallahu a’lam. Jika dipakai teori Hegel – yang dipakai Fukuyama untuk merumuskan tesis The End of History-nya – maka dunia sekarang ini memang sudah sampai pada tahap akhir sejarahnya, yaitu kemenangan di pihak Kapitalis-Liberalis. Tidak ada bentuk pemerintahan lain setelah itu. Yang ada hanya modifikasi Kapitalis-Liberalis. Tesis Fukuyama ini memang sudah banyak yang menolak.

Sejarah pernah menyaksikan bercokolnya peradaban-peradaban besar. Menarik membandingkan “American Civilization” dengan peradaban Romawi (Roman Civilization) yang dibangun oleh Kekaisaran Romawi (Roman Empire). Eropa tampaknya ingin memposisikan diri sebagai Romawi Timur (Byzantine), yang dapat bertahan  sampai tahun 1453, sedangkan Induk “Roman Empire” sudah tamat pada 476.  Roman Civilization tampil ke pentas dunia  menggantikan Greek Civilization yang lebih mengandalkan rasionalitas ketimbang kekuatan militer. Proses kehancuran Roman Empire memakan waktu panjang. Terakhir, kehancuran moral – terutama di kalangan militer, perpecahan,  kemandegan ekonomi, dan serbuan kuat dari “Suku-suku Jerman” yang lebih rendah tingkat peradabannya, mengakhiri Kekaisaran Romawi.

Buku populer “The Rise and Fall of the Great Powers”, ditutup Paul Kennedy dengan bab “The United States: the Problem of Number One in Relative Decline”.  Tanda-tanda kemunduran AS sudah banyak dipaparkan. Tahun 1985, utangnya sudah mencapai 1.823 milyar USD. Defisit neracanya 202,8 milyar USD. Tahun 2002 defisit neracanya diperkirakan telah mencapai lebih dari 400 miliar dolar AS.  Dengan politik unilateralnya, beban yang ditanggung AS makin besar. Duit ditebar untuk menaklukkan negara-negara lain.

Perang atas Irak memang tidak disukai oleh dunia internasional. AS dimaki dimana-mana. Tapi, lagi-lagi, karena AS kuat, maka makian itu hanya sebatas kata-kata. Tak ada yang berani memberikan sanksi ekonomi terhadap AS. Malah, menyusul serangan AS atas Irak, negara-negara lain sibuk mengamankan kedutaan AS dan mengingatkan bahaya terorisme (anti-AS). Dalam kata-kata Paul Kennedy, “For all its economic and perhaps military decline, it remains, in Pierre Hassner’s world, “the decisive actor in every type of balance and issue… because it has so much power for good or evil.”   

Perang Irak telah mempertontonkan fenomena penting dari proses kehancuran peradaban AS. AS yang kini sendirian menempati singgasana di puncak  piramida politik internasional, mengalami delegitimasi moral untuk memimpin dunia. Perpecahan di NATO mencatat sejarah baru. Beban ekonomi AS sudah begitu berat. Toh, “Sang Kaisar” tak mau sadar. Dia kian tambun dan rakus bertengger di puncak piramida. Bau busuk dan suhu udara kian menyengat karena Sang Kaisar menolak Protokol Kyoto yang membatasi emisi CO2. Ia pun tak mau mengurangi penggunaan energi minyak yang unrenewable.

            Jika Jepang, Inggris, Spanyol, Singapura, Korsel, tak mampu lagi membopong “Sang Kaisar” yang kian tambun dan bau itu, maka dampaknya akan sangat mengerikan. Sebuah proses kehancuran dan krisis global bisa dibayangkan. Persis seperti runtuhnya Gedung WTC 11 September 2001. Piramida itu kini tampak semakin keropos, menyusul sikap Jerman, Perancis, Kanada, Belgia, yang tak sanggup lagi berdekatan dan membopong “Sang Kaisar”. Terlalu berat dan bau. (***)

(Naskah ini dimuat di Majalah Mingguan GATRA edisi 5 April 2003)

Adian Husaini (Mahasiswa PhD di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur)

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *