Monster Gender

  • Whatsapp

Ada sebuah buku. Judulnya: Pemahaman Islam dan Tantangan Keadilan Jender.  Penerbitnya: Pusat Studi Jender,  IAIN Walisongo Semarang (2002).  Buku ini membahas berbagai praktik yang didefinisikan sebagai bentuk diskriminasi gender. Ada subbab berjudul: “Ajaran-ajaran  Fikif  Diskiriminatif.” (hal. 89),  “Diskriminasi Jender dalam Ibadah Salat”. (hal. 92).

Lebih dari 1.400 tahun, perempuan muslimah tidak menggugat persoalan imam shalat; perempuan tidak protes karena tidak melantunkan azan; perempuan juga tidak menyoal kewajiban khatib Jumat bagi laki-laki.  Umat Islam selama itu tidak gaduh.  Kini, ajaran itu digugat; dikatakan sebagai “diskriminatif”.  Belum puas sampai di situ, buku yang ditulis para akademisi IAIN Semarang itu juga menggugat diskriminasi soal batasan aurat laki-laki dan perempuan.

“ Aurat laki-laki ditentukan hanya antara pusar dan lutut, sedangkan aurat perempuan meliputi seluruh tubuhnya (ada yang mengecualikan muka dan dua telapak tangannya). Ketentuan ini member kebebasan dan kelonggaran kepada kaum laki-laki. Sebaliknya, menekan kaum perempuan. Perempuan diposisikan sebagai subjek penyebab timbulnya fitnah dan tindakan asusila antara lawan jenis sehingga harus menutup seluruh tubuhnya (atau setidaknya selain muka dan dua telapak tangannya). Adilkah diskriminasi semacam ini?”  (hal.134-135).

Untuk menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak diskriminatif, penulis meminjam pemikiran Syahrur, pemikir liberal asal Syiria.  Menurutnya, perempuan HANYA wajib menutup bagian tubuh: yang berada diantara dan di bawah payudara, bawah ketiak, kemaluan, dan pantat. (hal. 141).

Ada lagi buku semacam ini!  Judulnya: Bias Jender dalam Pemahaman Islam.  Penerbitnya  pun  Pusat Studi Jender IAIN Walisongo Semarang (2002).  Diantara yang digugat adalah soal kepemimpinan laki-laki dalam keluarga.  Dengan perspektif  “Keseteraan Gender “, buku ini pun menyimpulkan,bahwa kepala rumah tangga tidak harus laki-laki:  “Dalam pemahaman ini, kepemimpinan keluarga dapat dipegang oleh siapa saja, suami atau istri, yang memiliki kriteria fadl dan infaq-nya lebih baik. (hal. 91).

****

Itulah dampak paham “Kesetaraan Gender” – jika sudah merasuki pikiran seseorang.  Tanpa sadar, dia sudah mengimani konsep “Kesetaraan” ala Barat.  Seluruh ajaran Islam yang membedakan kedudukan dan peran laki-laki dan perempuan dilihat sebagai “bias gender” atau “diskriminatif gender”.  Semua ajaran Islam dilihat sebagai produk budaya yang bisa diubah, sesuai kondisi social kemasyarakatan.  Konsep semacam ini, kini dirumuskan secara resmi dalam draft RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG): Gender adalah pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tetap dan dapat dipelajari, serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat, dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya.”

Selama ini, gugatan kaum gender terhadap  ajaran Islam yang mereka nilai “bias gender” belum berdampak kepada masyarakat luas, karena masih tersimpan dalam wacana akademik dan public.  Tetapi, kini, dengan dibahasnya RUU KKG di DPR, seluruh ajaran Islam  — yang dinilai diskriminatif gender”  bisa dimasukkan dalam bentuk kejahatan yang diancam hukuman penjara dan denda uang.

Draft RUU KKG sementara ini merumuskan: “Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang memiliki unsur pembedaan, pembatasan, dan/atau pengucilan atas dasar jenis kelamin tertentu.” (pasal 67).  Lalu, pasal 70 RUU KKG  merumuskan adanya hukuman pidana bagi pelanggar UU KKG: “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang memiliki unsur pembedaan, pembatasan, dan/atau pengucilan atas dasar jenis kelamin tertentu sebagaimana dimaksud dalam pasal 67, dipidana dengan pidana penjara paling lama …. (….) tahun dan pidana denda paling banyak Rp … (….).”

Itulah fakta paham Kesetaraan Gender dan RUU KKG yang sedang dibahas di DPR!  Tokoh Islam, Mohammad Natsir pernah mengingatkan: jika memadamkan api, padamkan selagi kecil!  Hikmahnya: jangan tunggu monster itu menjadi besar! Wallahu a’lam bil-shawab. (Depok, 17 April

Dr. Adian Husaini (Guru Pesantren Attaqwa Depok)

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *