MENGUNJUNGI TANAH KELAHIRAN MOHAMMAD NATSIR (2)

  • Whatsapp

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Pada hari kedua (11/10/2021) kunjungan ke Sumatera Barat, saya berkesempatan mengunjungi dua lembaga pendidikan legendaris di Kota Padang Panjang. Keduanya adalah Perguruan Thawalib dan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang. Saat memasuki area Perguruan Thawalib, Rombongan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), diterima dengan sangat terbuka dan penuh penghormatan oleh jajaran pimpinan Perguruan ini.

            Ternyata, memang ada hubungan yang sangat erat antara Perguruan Thawalib dengan DDII. Pendiri dan tokoh DDII, Mohammad Natsir, merupakan tokoh yang sangat dihormati di sini. Salah satu pimpinan terkenal dari Perguruan Thawalib, Buya Mawardi Muhammad (w. 1994), berprinsip, tamu siapa saja tidak akan dia temui, sampai ia selesai mengajar. Kecuali, Mohammad Natsir.

            Dalam perbincangan selama sekitar 1 jam, kami mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang sejarah kehebatan Perguruan Thawalib. Tokoh-tokoh penting Perguruan Thawalib Padang Panjang adalah: Syekh Abdullah Ahmad, Syekh Daud Rasjidi, Syekh Abdul Karim Amrullah, Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, Buya HMD Datuk Palimo Kayo, Buya Zainal Abidin Ahmad, dan Buya Mawardi Muhammad.

            Perguruan Thawalib tumbuh secara bertahap mulai dari sebuah surau hingga menjadi perguruan Islam yang melahirkan banyak ulama, tokoh, dan pejuang di tengah masyarakat. Salah satu alumninya yang terkenal adalah Prof. Hamka, Prof. Ali Hasjmi, dan sebagainya.

            Salah satu yang menggembirakan, dalam kunjungan itu, kami mendapat hadiah sebuah buku berjudul: Sejarah Perguruan Thawalib Padang Panjang (Padang Panjang: Yayasan Thawalib Padang Panjang, 2021). Buku ini merupakan salah satu buku penting dan berkualitas tentang sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Sebab, buku dikerjakan dengan serius dan dengan standar ilmiah yang baik.

            Membaca buku ini seperti kita menelusuri perjalanan Perguruan Thawalib disertai dengan uraian situasi sosial-budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Tampak bahwa masyarakat muslim ketika itu masih sangat menghargai ilmu dan ulama. Perguruan Thawalib sangat bertumpu eksistensinya pada kualitas pemimpin yang hebat. Syekh Abdullah Ahmad adalah ulama dan pejuang pendidikan yang merintis dan meninggalkan warisan pendidikan yang sangat bermanfaat.

            Ulama yang sangat menonjol dalam perjalanan Perguruan Thawalib adalah Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), yang juga merupakan ayah kandung Buya Hamka. Disamping melakukan perubahan dan peningkatan kualitas kitab-kitab yang diajarkan, HAKA juga menerapkan sistem keterbukaan dan diskusi bahkan perdebatan dalam proses pendidikan. Para santri dilatih memahami dan memecahkan masalah masyarakat.

            Diantara kitab-kitab yang diajarkan ketika itu adalah: Kitab Nahwu Al-Jurumiah, Matan Bina, dan Fathul Qarib, Fahtul Muin, Bidayatul Mujtahid, dan sebagainya. Disamping dikenal sebagai ulama yang tinggi ilmunya, HAKA juga menulis banyak buku. Ia juga menerbitkan sejumlah majalah, seperti majalah Al-Imam dan Al-Munir. Oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, Majalah Al-Munir diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Jawa. Bahkan, secara khusus, pada tahun 1918, HAKA berjumpa dengan KH Ahmad Dahlan dan berbincang secara intensif dalam beberapa hari.

            Mungkin banyak yang mengenal Buya Hamka sebagai penulis yang sangat produktif. Sebenarnya, ayahnya, yaitu HAKA pun penulis yang produktif. Ada 31 judul buku (37 jilid) yang ia tulis. Diantaranya, kitab ushul fiqih berjudul Sullamul Wushul, Kitab Tafsir Al-Burhan  fii Tafsiril Quran, Kitab yang mengkritik ajaran Ahmadiyah Al-Qaulus Shalih, dan sebagainya.

            Salah satu lulusan Perguruan Thawalib yang terkenal adalah KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pesantren Gontor. Pada tahun 1930, Imam Zarkasyi berangkat ke Padang Panjang untuk belajar di Perguruan Thawalib. Masa belajar di Thawalib adalah 7 tahun, terdiri atas 4 tahun Intidaiyah dan 3 tahun Tsanawiyah. Karena kecerdasan dan ketekunannya, Imam Zarkasyi hanya memerlukan waktu dua tahun untuk tamat dari Perguruan Thawalib.

            Demikianlah sekilas perjalanan sejarah Perguruan Thawalib Padang Panjang. Dalam perjalanannya, Perguruan Thawalib ini sangat menjaga kemandirian dan juga kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tidak benar. Mereka pernah mendapat tawaran bantuan pembangunan kelas tertentu, lengkap dengan seluruh sarana dan prasarananya. Tetapi, meraka lebih memilih mandiri dan menolak bantuan, karena ada konsekuensi dukungan politik tertentu.

            Selama kunjungan di Perguruan Thawalib Padang Panjang itu, saya diminta memberikan taushiyah siangkat kepada para santri. Saya hanya mengajar para santri untuk bersyukur telah diberi kesempatan oleh Allah untuk menimba ilmu di sebuah Perguruan Islam yang sangat terkenal. Juga, agar para santri menjaga niat dan adab dalam mencari ilmu di pondok.

            Setelah sempat mengalami sedikit goncangan dalam perjalananya, kini Perguruan Thawalib Padang Panjang telah kembali mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Dengan lahan sekitar 1 hektar, Perguruan Thawalib Padang Panjang berencana terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikannya.

            Kita doakan, semoga Perguruan Thawalib terus tumbuh menjadi salah satu contoh Perguruan Islam yang terbaik. InsyaAllah, dengan potensi sejarah dan para pimpinannya yang baik, maka Perguruan Thawalib Padang Panjang,  akan kembali menjadi model pendidikan ideal bagi umat Islam Indonesia. (Bersambung). (Depok, 15 Oktober 2021).

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *