Kembali Seperti Majapahit?

  • Whatsapp
Sumber Foto: https://theinsidemag.com/

            Majalah MEDIA HINDU, edisi Oktober 2011, menurunkan laporan utama berjudul “Kembali ke Hindu, Bila Indonesia Ingin Berjaya Kembali Seperti Majapahit”. Ditegaskan pada bahasan utama: “Kembali pada Hindu, sebagai satu-satunya langkah utama untuk mengantar Indonesia ini kembali menjadi Negara Adidaya.”

            Mengutip ramalan Goldman Sach, Majalah Hindu ini menyatakan, tahun 2050 Indonesia akan menjadi  Negara maju ke-7 setelah Cina, USA, India, Brazil, Mexico dan Rusia. Prediksi ini, katanya, cocok dengan ramalan Jayabaya bahwa di tahun 2000 Saka (2078 M), Nusantara menjadi negara Adikuasa.

            “Namun atas dasar pendapat tersebut di atas, mustahil suatu bangsa menjadi maju apabila meyoritas rakyatnya masih menganut agama yang faktanya menggusur budaya dan nilai-nilai luhur bangsa. Oleh karena itu harus kembali ke agama yang dapat memelihara dan mengembangkan budaya bangsa, sebagai syarat mutlak untuk menjadi Negara Adidaya. Satu-satunya agama yang dapat menumbuhkembangkan budaya bangsa adalah Hindu, karena memang sejak dahulu kala bangsa ini beragama Hindu, yang kemudian menimbulkan budaya bangsa yang adiluhung ini,” demikian tulis majalah yang terbit di Jakarta ini.

            Di dalam pengantar redaksi, disebutkan: “Pohon bisa tumbuh besar dan kuat menghadapi badai adalah yang akarnya tertanam jauh di dalam tanah. Bukan pohon hasil cangkokan atau tempelan. Dan pohon yang tumbuh dalam habitatnya akan menghasilkan buah yang baik. Salak Nongan di Karangasem, tidak akan menghasilkan buah yang sama kualitasnya bila ditanam di Ubud. Pohon kurma yang habitatnya di gurun pasir tidak akan berbuah di daerah subur dan banyak hujan seperti Indonesia. Jika Indonesia ingin maju maka ia harus kembali ke akar budayanya.”

            Jadi, simpul MEDIA HINDU: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi Negara maju.”

            Tawaran dan optimisme kaum Hindu itu patut dicermati dan dihormati – sebuah optimisme  kaum minoritas yang luar biasa. Bahwa, menurut mereka, hanya dengan kembali menjadi Hindu, Indonesia akan berjaya menjadi bangsa besar.  Tapi, tidak ada salahnya jika kita mengalisis pendapat itu secara kritis.

            Pertama, benarkah Hindu adalah Jatidiri bangsa Indonesia? Pendapat ini bukan hal baru. Sejumlah orientalis sudah menyebutkannya. Prof. Syed Naquib al-Attas merangkum pendapat para orientalis dan kaum kolonial: “Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana pelitur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkupas menonjolkan kehinduannya, kebudhaannya, dan animismenya. Namun menurut saya, paham demikian itu tidak benar dan hanya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka.”  (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu,  (Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), hal. 41.)

            Soal “Jatidiri bangsa Indonesia” sudah lama diperdebatkan oleh para ilmuwan dan tokoh bangsa. Bahkan, menurut Bung Karno, ia menggali Pancasila dari zaman asli Indonesia, sebelum kedatangan agama Hindu. Dalam buku berjudul Pantjasila Dasar Filsafat Negara, Bung Karno antara lain menyatakan:   “Saya gali sampai jaman Hindu dan pra-Hindu. Masyarakat Indonesia ini boleh saya gambarkan dengan saf-safan. Saf ini di atas saf itu, di atas saf itu saf lagi. Saya melihat macam-macam saf. Saf pra-Hindu, yang pada waktu itu telah bangsa yang berkultur dan bercita-cita. Berkultur sudah, beragama sudah, hanya agamanya lain dengan agama sekarang, bercita-cita sudah. Jangan kira bahwa kita pada jaman pra-Hindu adalah bangsa yang biadab… Jadi, empat saf, saf pra-Hindu, saf Hindu, saf Islam, saf imperialis, menembus jaman Islam, menembus jaman Hindu, masuk ke dalam jaman pra-Hindu.” 

Menyimak pidato Bung Karno itu, kita bisa bertanya, apakah  Jatidiri bangsa Indonesia adalah Hindu atau zaman pra-Hindu?

Upaya untuk mengaitkan Indonesia dengan budaya asli pernah ditentang keras oleh Prof. Sutan Takdir Alisyahbana. Kata tokoh Pujangga Baru ini: “Dan sekarang ini tiba waktunya kita mengarahkan mata kita ke Barat.” Namun, Takdir menepis tuduhan bahwa ia mengarahkan Indonesia agar membebek pada Barat. Katanya: “Saya tidak pernah berkata, bahwa generasi baru tidak usah tahu kebudayaan lama. Saya hanya berkata, bahwa generasi baru harus bebas, jangan terikat kepada kebudayaan lama.”  (Lihat, buku Polemik Kebudayaan (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977, cet.ke-3).

Tentang kebesaran Majapahit?  Ilmuwan Belanda, Prof. Dr. C.C. Berg melalui tulisan-tulisannya telah mengungkapkan, bahwa wilayah Majapahit sebenarnya hanya meliputi wilayah Jawa Timur, Bali, dan Madura. Masuknya wilayah-wilayah lain di Nusantara, hanya merupakan cita-cita, dan tidak pernah masuk ke dalam wilayah Majapahit. (Lihat, Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit (Depok: Komunitas Bambu, 2009).

            Bagaimana pun, optimisme dan semangat kaum Hindu untuk meng-Hindu-kan kembali Indonesia perlu dihargai. Kaum Muslim, sebagai mayoritas,  perlu bercermin, jika kaum minoritas saja memiliki keyakinan semacam itu, bagaimana dengan umat Muslim? 

Perang klaim saja tak terlalu bermanfaat!  Kini, umat Muslim dituntut untuk membuktikan, bahwa mereka benar-benar umat terbaik dan patut menjadi teladan di negeri ini! Wallahu a’lam bil-shawab. (Depok, 13 Oktober 2011).

Dr. Adian Husaini (Dosen Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor)

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *