BAHAYA BELAJAR ISLAM MODEL ORIENTALIS

  • Whatsapp

 Oleh : Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Dalam berbagai acara seminar, kajian, dan diskusi tentang Pendidikan Islam, saya sering mendapat pertanyaan tentang kondisi Perguruan Tinggi Islam dan studi Islam. Mengapa banyak yang belajar Islam, tetapi akhirnya menyerang Islam dan umat Islam.

            Intinya, banyak yang belajar Islam, tetapi tidak mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Yakni, ilmu yang semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT; ilmu yang diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. Lebih bahaya lagi, jika ilmunya mudharat; ilmu yang merusak diri dan masyarakat.

            Sebenarnya, kondisi studi Islam seperti ini sudah diingatkan bahayanya oleh Prof. HM Rasjidi, 45 tahun lalu. Tepatnya, tanggal 3 Desember 1975, Prof. HM Rasjidi – tokoh Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dan Menteri Agama RI pertama — menulis laporan rahasia kepada Menteri Agama dan beberapa pejabat di Departemen Agama.

Prof. Rasjidi menulis secara rinci bahaya buku yang dijadikan sebagai buku wajib di Perguruan Tinggi Islam. Karena kritik internalnya tidak ditanggapi, maka 1977, Prof. Rasjidi menerbitkan kritiknya secara terbuka dalam sebuah buku.

            Setelah 45 tahun berlalu, peringatan dan nasehat Prof. Rasjidi tersebut perlu kita telaah kembali. Aspek pendidikan memang memerlukan waktu panjang untuk menciptakan perubahan. Tetapi, jika perubahan sudah terjadi, ibarat penyakit, maka bersifat kronis, dan tidak mudah untuk menyembuhkannya.

Bisa jadi, penyakit itu sudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan seseorang. Metode orientalis dalam studi Islam yang ‘destruktif terhadap Islam’ bisa jadi sudah dianggap sebagai kebenaran. Dalam al-Quran diceritakan orang-orang yang merasa berbuat baik, padahal amalnya sesat, adalah orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya di dunia. (QS 18 :103-104).

Agama-agama

            Salah satu model kajian orientalis terhadap agama-agama adalah menempatkan semua agama pada posisi dan fenomena yang sama. Misalnya, digambarkan proses perkembangan teologi sebagai hasil evolusi, dari dinamisme, animisme, politeisme atau henoteisme, lalu monoteisme. Agama monoteis dikatakan sebagai agama tauhid.

Padahal, faktanya, sebagai agama Tauhid, Islam bukanlah hasil evolusi pemikiran manusia. Sebab, agama Tauhid berasal dari wahyu Allah, sehingga sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, konsep agama Tauhid adalah tetap, dan tidak mengalami evolusi. Masyarakat Barat menempatkan agama sebagai bagian dari budaya yang tumbuh di tengah masyarakat, sehingga selalu berkembang mengikuti proses budaya.

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/bahaya-belajar-islam-model-orientalis

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *