90 TAHUN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS

  • Whatsapp

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Hari ini, 5 September 2021, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas genap berusia 90 tahun. Beliau lahir di Bogor, 5 September 1931. Kabarnya, hingga kini, beliau masih terus berpikir dan menulis. Di musim pandemi seperti ini, saya hanya bisa memanjatkan doa, semoga beliau senantiasa dalam lindungan Allah SWT.

            Prof. al-Attas bukan hanya ilmuwan hebat. Tetapi, beliau juga cucu seorang yang diakui sebagai seorang “wali”, yaitu Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas (Habib Kramat). Makam kakeknya itu, di Kramat Empang Bogor, banyak dikunjungi calon pejabat – seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, Ma’ruf Amin, dan lain-lain.

            Alhamdulillah, sebelum musim pandemi – tepatnya 15 Februari 2020 —  saya  sempat berjumpa Prof. al-Attas di Kuala Lumpur, dan menyerahkan buku saya yang berjudul: “Mengenal Sosok dan Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Wan Mohd Nor Wan Daud” (Depok: YPI Attaqwa, 2020).

            Tahun 2003 saya mulai belajar di kampus ISTAC (Internastional Institute of Islamic Thought and Civilization)  – kampus yang didirikan oleh Prof. al-Attas. Kami, para mahasiswa ISTAC, paham benar bahwa tidak mudah untuk mendapatkan kesempatan menyerahkan sebuah karya tulis kepada Prof. Naquib al-Attas. Beliau dikenal sebagai pemikir ulung yang sangat cermat dan teliti serta bercita rasa tinggi dalam menilai karya ilmiah.

Tetapi, ketika itu, Prof. Wan Mohd Nor meminta saya menyerahkan langsung buku itu kepada Prof. al-Attas, beberapa saat setelah Prof. al-Attas menyampaikan orasi ilmiah selama 81 menit, di hadapan sekitar 500 peserta simposium internasional. Alhamdulillah, hari itu saya bisa hadir dalam acara Simposium Pemikiran Prof. al-Attas, di kampus UTM Kuala Lumpur.

            Sehari sebelumnya, Jumat (14/2/2020) malam, buku itu – “Mengenal Sosok dan Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Wan Mohd Nor Wan Daud – diluncurkan di sebuah rumah makan Nasi Kandar di Kuala Lumpur. Hadir sekitar 50 orang – sebagian besarnya memang mengkhususkan datang ke Kuala Lumpur untuk menghadiri Simposium Internasional tersebut.

*****

            Sekedar mengingatkan, Syed Muhammad Naquib al-Attas selama ini dikenal dengan sumbangannya dalam pelbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti metafisika, falsafah sains dan pendidikan, perbandingan agama, sastera, sejarah dan kebudayaan.

            Tokoh muslim berpengaruh di AS, Syaikh Hamza Yusuf menulis dalam akun media sosialnya, bahwa Prof. Naquib al-Attas adalah pemikir besar yang memberikan pengaruh terbesar pada pemikirannya; khususnya dalam hal memahami krisis yang menimpa umat Islam dan cara untuk mengatasinya: “I have been Muslim now for 42 years, I can say with a great deal of conviction that Syed Naquib al-Attas is probably the greatest influence on my understanding on the crisis in the Muslim world and also, of what needs to be done in order to heal that crisis.”

            Dalam pidato pengukuhannya sebagai pemegang Kursi Pemikiran Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud  menyebutkan bahwa diantara gagasan utama dan terpenting yang disampaikan Prof al-Attas adalah KONSEP ADAB melalui pelbagai dimensi yang ditawarkannya kepada pemikiran modern dalam Islam.

 Adab ialah konsep tradisi Islam yang diperkenalkan kembali dan diuraikan secara sistematis oleh Prof. al-Attas.  Adab juga dikaitkan dengan terma serta konsep Islam dalam ontologi, epistomologi, pendidikan, etika, maupun ekologi.

            Tahun 1977, dalam Konferensi Internasional Pendidikan Islam di Kota Mekkah, Prof. al-Attas sudah menyampaikan satu teori penting: bahwa akar krisis yang melanda umat Islam adalah “loss of adab” (hilang adab). Hilang adab terjadi karena “kekacauan ilmu” (confusion of knowledge). Karena itulah, perlu dilakukan proses Islamisasi ilmu-ilmu kontemporer. Yakni, ilmu yang sudah tersekulerkan.

            Gerakan Islamisasi Ilmu ini sudah diserukan di berbagai dunia Islam tahun 1980-an. Tahun 1983, Rektor Universitas Ibn Khaldun Bogor ketika itu, Prof. Dr. Ir. AM Saefuddin sudah mencanangkan program ISK (Islamisasi Sains dan Kampus). Program ini terus begulir, hingga saat ini. Di Malaysia juga berdiri International Islamic University Malaysia (IIUM).

Tetapi untuk mewujudkan ide-idenya lebih utuh, Prof. al-Attas mendirikan ISTAC tahun 1987. Jadi, pemikiran Prof. al-Attas sejatinya telah terbukti bisa diaplikasikan. Silakan baca disertasi doktor Muhammad Ardiansyah di UIKA Bogor yang berjudul: “Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi.”

Alhamdulillah, sejak 2003 sampai sekarang, saya berkesempatan terus berdialog dengan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud dan bertanya tentang berbagai pemikiran Prof. al-Attas serta aplikasinya – khususnya dalam dunia pendidikan. Termasuk, misalnya, bagaimana menerapkan konsep adab itu di pesantren at-Taqwa Depok. Setelah enam tahun konsep itu diterapkan, kami makin yakin, bahwa “ta’dib” adalah konsep pendidikan yang ideal sepanjang sejarah Islam.

                                                                        *****

Sebenarnya saya telah mulai membaca buku Islam and Secularism karya Prof. al-Attas edisi bahasa Indonesia,  sejak tahun pertama kuliah di IPB Bogor, tahun 1984. Alhamdulillah, atas jasa baik Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, pada tahun 2002, saya dipertemukan dengan Prof. Wan Mohd Nor di kampus ISTAC, Kuala Lumpur. Padahal, baik nama Prof. Wan Mohd Nor, maupun nama ISTAC, ketika itu, sama sekali belum saya dengar dan saya baca.

            Tahun 2002 itulah Prof. Wan Mohd Nor – sebagai wakil Direktur ISTAC – memberi kabar gembira bahwa saya diterima kuliah di ISTAC. Tahun 2009, saya lulus doktor di ISTAC-IIUM dengan disertasi berjudul: “Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council”. Disertasi ini telah diterbitkan oleh IIUM Press.

            Tahun 2014, saya diberi kesempatan oleh Prof. Wan Mohd Nor untuk menjadi peneliti tamu di CASIS-UTM Kuala Lumpur, selama tiga bulan. Selama itu, saya sempat berjumpa dua kali dengan Prof. al-Attas. Semoga masih ada kesempatan lagi untuk berjumpa Prof. Syed Naquib al-Attas. Tapi, yang lebih penting, adalah bagaimana mewujudkan gagasan-gagasan Prof. al-Attas itu dalam pendidikan, sehingga akan lahir kader-kader umat dan bangsa yang unggul.

            Semoga di usianya yang ke-90, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas senantiasa dalam lindungan dan rahmat Allah SWT. (Depok, 5 September 2021).

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *